Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Penyebab anak suka menggigit

08.00 Add Comment



Jakarta, Bagi yang baru pertama kali menjadi orangtua mungkin akan kaget begitu mengetahui bahwa anaknya suka sekali menggigit. Bukan hanya orangtuanya yang suka digigit, tapi bisa juga orang lain. Kadang hal ini membuat orangtua menjadi malu dengan orang lain.

Mempunyai anak yang memiliki kelakuan agresif merupakan bagian yang normal dalam hal perkembangan anak, sama seperti perkembangan kemampuan berbicara, berjalan ataupun perkembangan fisik lainnya.

Meskipun dianggap normal tapi sebaiknya tidak diacuhkan, beritahu anak bahwa kelakuan agresif seperti suka menggigit tersebut tidak bagus dan tunjukkan cara lain untuk mengekspresikan perasaannya.





Ada beberapa alasan kenapa anak suka menggigit, seperti dikutip dari Pediatrics, Rabu (9/9/2009):
1. Dalam tahap eksplorasi. Bayi dan anak yang baru bisa berjalan akan belajar melalui sentuhan, penciuman, apa yang didengar dan apa yang dirasakan. Jika orangtua memberikan suatu barang baru maka anak akan memasukkannya ke dalam mulut, hal ini biasa dilakukan oleh semua anak-anak. Dan kebiasaan tersebut biasanya terbawa hingga suka menggigit orang.

2. Jika ingin tumbuh gigi. Anak usia 4 sampai 7 bulan merupakan usia seorang anak mulai tumbuh gigi. Gusi yang bengkak atau gatal akan memberikan perasaan tidak nyaman pada anak, sehingga anak akan mencari pelampiasan untuk terbebas dari perasaan tidak nyaman itu yang kadang obyek yang digunakannya adalah orang.

3. Karena ingin protes terhadap sesuatu.
Pada anak usia sekitar 12 bulan lebih akan mencari sesuatu yang menarik dan bisa membuatnya senang. Misalnya dengan memainkan sendok dan menjatuhkannya ke lantai atau membuang mainannya. Namun hal ini biasanya memicu kemarahan orangtua dan melarang hal tersebut. Untuk menunjukkan bentuk protesnya biasanya anak-anak akan menggigit orangtuanya atau berteriak dengan keras.

4. Mencari perhatian orang. Saat anak berada pada situasi dimana anak-anak tersebut tidak menerima perhatian yang cukup, maka anak akan mencari cara agar diperhatikan oleh orang yaitu dengan cara menggigitnya. Karena anak percaya bahwa cara ini cukup efektif untuk bisa mendapatkan perhatian dari orang lain.

5. Meniru apa yang dilihatnya. Anak-anak akan meniru apapun yang dilihatnya. Jika anak sering kali melihat tayangan atau kelakuan orang-orang yang suka menggigit, maka hal tersebut akan ditiru oleh anak. Karena anak-anak menganggap hal tersebut bukanlah sesuatu yang berbahaya.

6. Mau mendapatkan apa yang diinginkannya. Anak-anak berusaha untuk bisa mewujudkan semua keinginannya dan anak percaya bahwa menggigit adalah cara yang paling efektif untuk bisa mengontrol yang lainnya. Seperti jika menginginkan mainan atau teman bermainnya pergi dan membiarkannya sendiri, menggigit adalah cara tercepat untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Untuk menghentikan kebiasaan tersebut tidak bisa dengan cara yang keras, karena jika anak semakin dimarahi maka anak akan membuat kebiasaan tersebut semakin menjadi-jadi. Cara yang paling efektif adalah dengan berbicara secara baik-baik, gunakanlah kata-kata yang positif dan persuasif sehingga anak mau mendengarkan.

Jika mencari perhatian adalah alasan utama anak suka menggigit, maka orangtua harus memberikan waktu yang lebih banyak bersama sang anak, bisa dengan membacakan buku cerita atau bermain bersama.

sumber : detik health

Daftar obat yang tidak boleh dikonsumsi bayi

07.52 1 Comment





Bayi dan balita memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap obat-obatan dibandingkan remaja. Jika memberikan dosis atau waktu pemberian obat yang salah, bisa-bisa obat tersebut tidak efektif atau bahkan berbahaya bagi bayi.

Memberikan obat pada bayi harus sesuai dengan resep yang diberikan dokter. Ada beberapa obat yang tidak bisa diberikan pada bayi terutama yang berusia di bawah 6 bulan, karena memiliki efek samping yang berbahaya bagi bayi.

Beberapa obat yang tidak dianjurkan untuk bayi biasanya karena bisa menghambat kerja sistem tubuh, atau tubuh bayi belum bisa menoleransi obat tersebut. Sehingga bukan kesembuhan yang didapat tapi bisa jadi menimbulkan penyakit yang lain akibat efek sampingnya.




Berikut ini adalah beberapa obat yang harus diperhatikan anjuran penggunaannya dan usia sang bayi seperti dikutip dari Babycenter, Senin (31/8/2009):

1. Paracetamol. Obat ini tidak dianjurkan untuk bayi berusia di bawah 3 bulan, penggunaan obat ini sebaiknya berdasarkan resep dan setelah berdiskusi dengan dokter atau setelah bayi mendapatkan vaksinasi pertama kali. Parasetamol bisa menghambat beberapa enzim yang berbeda di dalam otak dan ikatan tulang belakang yang terlibat dalam perpindahan rasa sakit. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa penggunaan parasetamol pada bayi bisa meningkatkan risiko asma 5 tahun mendatang sebesar 46 persen.

2. Ibuprofen. Obat ini sebaiknya digunakan untuk bayi berusia 6 bulan ke atas, karena obat ini bisa menghambat produksi beberapa zat kimia di dalam tubuh yang bisa meningkatkan respons cedera, sakit atau menyebabkan peradangan. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa ibuprofen memang lebih bagus untuk mengatasi demam atau menurunkan suhu tinggi pada anak-anak di atas usia 6 bulan. Obat ini tidak bisa digunakan untuk bayi yang menderita asma sejak lahir atau turunan.

3. Aspirin. Jangan pernah memberikan anak obat yang mengandung aspirin, karena bisa menyebakan Reye's syndrome (sindrom yang bisa mengubah zat-zat kimia dalam darah sehingga merusak fungsi beberapa organ terutama hati dan otak) yang pada kasus tertentu bisa mengakibatkan kematian. Aspirin kadang ditulis sebagai salisilat atau asam asetilsalisilat.

4. Obat anti-mual. Jangan memberikan obat ini tanpa rekomendasi dari dokter, karena obat ini memiliki risiko komplikasi. Rata-rata anak-anak bisa mengatasi rasa mual tanpa harus mengonsumsi obat-obatan. Jika sudah mengalami dehidrasi, segera hubungi dokter.

5. Obat batuk dan flu yang dijual bebas. American Academy of Pediatrics (AAP) melarang penggunaan obat batuk dan flu yang dijual bebas untuk anak usia sebelum sekolah, karena bisa berbahaya. Efek yang ditimbulkan adalah tidak bisa tidur, sakit perut bagian atas dan jantung yang berdebar-debar. Setiap tahun 7.000 anak-anak di bawah usia 11 tahun masuk rumah sakit karena mengonsumsi obat batuk dan flu yang berlebihan.

6. Obat orang dewasa. Memberikan anak-anak obat orang dewasa dengan dosis yang dikurangi sangat berbahaya. Jika obat tersebut memberi tanda tidak untuk anak-anak, maka jangan pernah mencoba untuk diberikan ke anak-anak.

7. Asetaminofen yang berlebihan. Beberapa obat mengandung asetaminofen untuk mengurangi demam dan sakit, tapi berhati-hati dalam penggunaannya. Harus sesuai dengan resep dokter atau apoteker setempat.

8. Obat herbal yang mengandung ephedra atau ephendrine. Jangan pernah memberikan anak-anak obat ini, karena berhubungan dengan tekanan darah tinggi, detak jantung yang tidak teratur, serangan jantung dan stroke. Berikanlah pengobatan alternatif lain yang lebih aman dan alami.

9. Tablet kunyah. Jangan memberikan anak berusia di bawah 2 tahun obat ini, umumnya anak berusia 2 sampai 4 tahun yang sudah mengerti cara minum obat ini. Jika orang tua berpikir anaknya belum terlalu mengerti, maka hancurkan obat dan letakkan di sendok yang diberi sedikit air. Dosis yang diberikan harus sesuai.

Jika bayi Anda mengalami demam, maka cobalah mengikuti beberapa langkah berikut ini:
1. Pastikan bayi menggunakan pakaian yang nyaman terutama yang berbahan dasar katun, sehingga bisa menyerap keringat.
2. Jaga suhu di kamarnya tetap nyaman, jangan terlalu dingin atau panas.
3. Berikan minum yang cukup, bisa berupa ASI atau susu formula. Untuk bayi yang sudah boleh mendapatkan makanan pendamping ASI cobalah berikan jus buah atau sup.
4. Kompres bayi dengan menggunakan air hangat dan segera ganti jika handuknya sudah kering.

Lebih telitilah dalam memberikan obat pada anak Anda, karena jika dosisnya berlebih atau obat tersebut tidak boleh diberikan untuk anak-anak maka bisa berakibat fatal

Sumber : detik health

Jangan renggut waktu bermain anak

15.33 Add Comment


BERBAGAI kegiatan sekolah dan ekstra kurikuler membuat anak rela menghapus waktu bermainnya. Padahal bermain sangat penting bagi pertumbuhan si kecil.

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya tumbuh cerdas, pintar, dan mampu bersaing dengan teman-temannya. Untuk itulah, para orangtua tak segan-segan membekalinya dengan pendidikan dan berbagai keterampilan. Mereka pun disekolahkan di sekolah favorit dengan jadwal belajar yang superpadat dan ekstrakurikuler yang bermacam-macam.

Tak sampai di situ, orangtua juga masih menginginkan si buah hati untuk memiliki keterampilan lain. Tak pelak les ini dan itu pun dimasukkan dalam daftar kegiatan anak. "Akibat dari keadaan tersebut, maka bermain menjadi kesempatan yang langka untuk anak-anak pada masa sekarang ini," tutur psikolog anak dari Universitas Indonesia, Gisella Tani Pratiwi, S.Psi.



Gisella menuturkan, kebanyakan waktu anak diisi oleh berbagai kegiatan untuk mengembangkan potensi dirinya, yang cenderung bersifat akademis seperti sekolah, les atau bimbingan belajar. Atau ada juga orangtua yang mengikutsertakan anak ke berbagai les di luar bidang akademis, tapi mungkin tidak sesuai dengan minat anak.

Beruntungnya jika orangtua masih bisa sampai rumah pada sore hari. Namun, jika hal itu tidak terjadi, maka jalan satu-satunya adalah dengan melakukan aktivitas pada saat hari libur.

"Maka tidak heran jika banyak anak yang tertekan karena tuntutan orangtua. Padahal yang juga mereka butuhkan adalah bermain," tandasnya saat menghadiri acara konferensi pers "Kampoeng Maen Fair"yang diadakan Caldera Ed-Venture (Education & Adventure), baru-baru ini.

Bermain adalah salah satu cara bagi anak untuk belajar dan merasakan pengalaman yang baru. Bermain akan mengasah kecerdasan mental, fisik, maupun sosial anak dalam memahami nilai-nilai kehidupan.

Giselle menyebutkan, bermain itu adalah suatu kegiatan yang dilakukan tanpa ada paksaan (sukarela), menikmati, dan menyenangkan. Biasanya memiliki "peraturan" tertentu, yang dibuat sesuai dengan imajinasi anak, imajinatif, dilakukan dalam keadaan pikiran yang sadar, tidak tertekan.

"Bermain merupakan tahapan menyenangkan dalam dunia anak," tutur psikolog yang menyelesaikan gelar S-1 di Universitas Atma Jaya. Bermain pun memberikan manfaat pada anak. Dengan bermain, anak bisa mengembangkan aspek sosial, emosional, kognitif, dan motorik, membantu untuk beradaptasi dengan dunia nyata,membantu menghadapi stres,mengembangkan kreativitas, menjadi mampu berinteraksi dengan lingkungan, membantu menguasai berbagai peran. "Bahkan, dengan bermain, bisa mendukung kegiatan akademik anak," papar Gissella.

Biarkan anak memilih permainannya. Bisa dengan permainan yang tidak diarahkan (bebas), di sini anak belajar untuk bernegosiasi, bekerja sama, berbagi dan menyelesaikan konflik. Bisa permainan yang diputuskan sendiri oleh anak, di sini anak belajar untuk memutuskan suatu pilihan, bergerak sesuai "iramanya" sendiri, menentukan minatnya, berperan penuh untuk mencapai tujuannya.

"Secara fisik pun anak menjadi lebih aktif dan lebih sehat," ujarnya.

Disarankan bagi orangtua untuk memberikan permainan yang kreatif jika permainan dilakukan di dalam rumah. Selain itu, sebaiknya bermain pun tidak hanya dilakukan bersama anak saja, juga bersama orangtua. Bila orangtua ikut bermain bersama anak, maka orangtua dapat semakin memahami bagaimana sudut pandang anak terhadap berbagai hal.

"Anak juga menjadi merasa diperhatikan oleh orangtua, dan ini adalah modal yang tak ternilai dalam meningkatkan kualitas kedekatan orangtua dan anak," tuturnya.

Lewat bermain, orangtua bisa mengembangkan komunikasi yang lebih baik dengan anak, memberikan bimbingan dengan cara yang menyenangkan. Orangtua bisa benar-benar terlibat dengan anak mereka.

"Bermain bersama orangtua juga dapat menenangkan anak, terutama untuk anak yang sulit beradaptasi," ujar Marketing Manager Caldera Ed-Venture (Education & Adventure) Rico Elfizar di acara yang sama.

sumber : okezone.com

Jus buah bagi anak harus dibatasi

15.28 Add Comment


Jus buah mengandung banyak nutrisi. Namun, kandungan gizi yang terdapat dalam jus buah tidak mencukupi seluruh kebutuhan gizi anak-anak.

Sebuah penelitian yang dilakukan The American Academy of Pediatrics Committee on Nutrition menyebutkan, secara umum jus buah mengandung air, karbohidrat, gula, dan protein. Namun, jus buah tidak mengandung cukup banyak lemak, mineral, atau vitamin (selain vitamin C), yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak.

Jus buah mempunyai kandungan karbohidrat tinggi, sehingga jika dikonsumsi berlebihan akan menyebabkan diare, nyeri perut, kembung, dan gas dalam perut. Selain itu, jus buah juga tidak mengandung banyak serat sebagaimana buah segar yang belum diolah.

Studi ini juga menunjukkan, pemberian jus buah pada anak usia 4-6 bulan (terutama yang pernah mengalami kolik), sebelum mereka dikenalkan dengan makanan padat, dapat mengakibatkan kesulitan penyerapan karbohidrat. Anak yang rentan terhadap kolik akan menjadi rewel, mengalami gangguan tidur dan memiliki lebih banyak gas dalam perutnya, setelah minum jus tertentu.



Pemberian jus buah pada bayi yang belum mendapatkan makanan padat dapat menyebabkan malnutrisi jika jus tersebut digunakan sebagai pengganti ASI atau susu formula.

Studi itu memberikan rekomendasi mengenai konsumsi jus buah pada bayi dan anak-anak:
1. Jus buah tidak boleh diberikan pada bayi di bawah 6 bulan.
2. Setelah 6 bulan, bayi tidak boleh mengonsumsi jus buah dari botol dan cangkir, yang menyebabkan mereka dapat dengan mudah meminumnya sepanjang hari.
3. Bayi tidak boleh diberikan jus buah saat waktu tidur.
4. Untuk anak usia 1-6 tahun, konsumsi jus harus dibatasi sekitar 110-165 ml/hari.
5. Untuk anak usia 7-18 tahun, konsumsi jus harus dibatasi sekitar 230-330 ml/hari.

sumber : suara merdeka.com